APAKAH PARAGRAF ITU?


 
APAKAH PARAGRAF ITU?
 
Siapapun yang pernah membaca buku, pasti mengetahui apa yang disebut paragraf. Itu karena apa yang tertulis di setiap halaman buku terbagi dalam paragraf-paragraf.
Suatu paragraf biasanya dikenali dengan kalimat pertamanya yang menjorok ke dalam dan akhir paragraf itu dikenali dengan berganti-garisnya penulisan kalimat pertama paragraf berikutnya. Namun, seringkali ada paraagraf juga yang berbentuk indentet yang kalimat pertamanya tidak menjorok ke dalam.
 Menurut Cambridge Advanced Learners Dictionary, yang dimaksud dengan paragraf adalah “a short part of a text, consisting of at least one sentence and beginning on a new line. It usually deals with a single event, description, idea, etc.” (suatu bagian pendek dari tulisan yang terdiri atas sedikitnya satu kalimat dan dimulai pada garis baru. Paragraf itu biasanya membicarakan satu kejadian, gambaran, gagasan, dan sebagainya).
Dari definisi di atas, kita dapat melihat empat ciri fisik paragraf, yaitu: (1) bagian dari suatu tulisan yang lebih panjang (misalnya, makalah, buku, laporan, dan sebagainya), (2) bisa terdiri atas satu atau lebih kalimat; (3) dimulai dengan garis baru; dan (4) membahas tentang hanya satu kejadian, gambaran, gagasan, dan sebagainya.
Banyak penulis menganggap bahwa empat ciri fisik di atas sudah cukup untuk membuat suatu paragraf itu efektif. Sebagian mereka juga beranggapan bahwa paragraf yang baik itu ditentukan oleh banyaknya kalimat yang ada di dalamnya (misalnya tujuh atau sepuluh kalimat). Akan tetapi, sebenarnya, panjang pendeknya atau banyak sedikitnya kalimat tidak menentukan apakah suatu bagian tulisan itu merupakan satu paragraf atau tidak. Yang lebih menentukan adalah apakah paragraf itu, secara efektif dan efisien, dapat mengomunikasikan gagasan yang ingin disampaikan penulisnya kepada pembaca. Paragraf bisa panjang atau pendek tergantung kebutuhan tetapi paragraf itu seetidaknya cukup panjang untuk bisa menerangkan gagasan pokok yang ingin disampaikan dalam paragraf itu secara jelas.
Keefektifan paragraf menentukan keefektifan suatu karya tulis (misalnya, makalah atau buku). Kalau diibaratkan karya tulis itu sebagai bangunan rumah, maka paragraf adalah batu batanya. Kalau batu bata itu berkualitas baik dan kuat, maka bangunan rumah itu akan menjadi kokoh dan kuat pula. Sebaliknya, kalau batu bata itu berkualitas jelek dan rapuh, maka bangunan rumah itu pun akan menjadi rapuh, tidak kokoh. Demikian pula dengan paragraf dalam suatu karya tulis. Kalau setiap paragraf dalam karya tulis itu efektif, maka karya tulis itu akan menjadi efektif. Sebalinya, jika sebagian besar paragraf dalam karya tulis itu tidak efektif, maka karya tulis itupun akan menjadi tidak efektif.
CIRI-CIRI PARAGRAF YANG EFEKTIF
Ada tiga ciri yang menentukan keefektifan suatu paragraf, yaitu kesatuan fokus, pertalian antar kalimat, dan pengembangan yang cukup. Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang ketiga ciri ini yang menentukan apakah paragraf itu efektif atau tidak, maka ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, antara lain: 
1.  Apakah yang dimaksud dengan kesatuan fokus? 
2. Apakah yang dimaksud dengan pertalian antar kalimat? 
3. Apakah yang dimaksud dengan pengembangan yang cukup?
Kesatuan Fokus (unity)
Kesatuan fokus merupakan salah satu dari ciri penting suatu paragraf yang efektif. Suatu paragraf dianggap memiliki kesatuan fokus apabila paragraf tersebut membahas hanya satu pokok bahasan saja, tidak lebih. Artinya, semua kalimat dalam paragraf itu membicarakan satu topik yang sama. Tidak ada satu kalimatpun yang membicarakan topik yang berbeda dari kalimat lainnya.
Sebagai contoh, kalau suatu paragraf menyatakan akan membicarakan keindahan kota Kalabahi, misalnya, maka setiap kalimat dalam paragraf itu harus berbicara tentang keindahan kota Kalabahi. Kalau ada salah satu kalimat dalam paragraf itu yang tiba-tiba membicarakan kota Kupang, maka paragraf itu akan kehilangan fokus pembahasannya dan Paragraf tersebut dikatakan tidak memiliki kesatuan fokus.
Ciri kesatuan fokus ini diperlukan untuk memudahkan pembaca mengikuti alur pembahasan penulis. Jika penulis konsisten hanya membicarakan satu hal saja dalam setiap paragraf, pembaca akan mudah memahami berapa hal yang dibicarakan penulis itu dengan melihat berapa paragraph yang ditulisnya.  
Pertalian Antar Kalimat (Koherensi)
Di samping memiliki kesatuan fokus, paragraf yang efektif harus juga memiliki ciri koherensi. Koherensi berasal dari kata dalam bahasa Inggris coherence yang berarti ”hold together” (melekat satu sama lain). Agar suatu paragraf dapat disebut memiliki koherensi, kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut harus melekat satu sama lain, seperti untaian rantai. Artinya, peralihan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya harus terasa logis dan lancar. Tidak boleh terasa tersendat-sendat atau melompat-lompat. Setiap kalimat harus mengalir secara lancar ke kalimat berikutnya.
Suatu paragraf dianggap memiliki koherensi apabila paragraf itu mudah dipahami karena kalimat-kalimat di dalam paragraf itu dihubungkan secara jelas dan logis. Koherensi dalam paragraf ini diperlukan untuk memberikan kemudahan dan kelancaran kepada pembaca dalam memahami uraian penulis. Ketiadaan koherensi dalam suatu paragraf akan membuat pembaca bingung dan kesulitan menangkap sebaik-baiknya pesan yang ingin disampaikan penulis.
Pengembangan Yang Cukup
Suatu paragraf dianggap telah dikembangkan dengan cukup memadai apabila paragraph tersebut berhasil menjelaskan topik atau ide yang ingin disampaikan penulisnya dengan sejelas-jelasnya. Dengan membaca uraian dalam paragraf tersebut, pembaca memperoleh gambaran yang jelas tentang topik atau ide yang ingin dikomunikasikan penulisnya. Apabila, sesudah membaca paragraf itu, pembaca masih bertanya-tanya tentang apa yang ingin disampaikan penulis dalam paragraf itu, maka hal itu merupakan petunjuk bahwa paragraf tersebut belum dikembangkan secara memadai.
Pengembangan yang memadai ini diperlukan oleh pembaca untuk bisa memahami isi paragraf tersebut dengan baik. Harus diingat bahwa tujuan komunikasi tertulis adalah membuat pembaca memahami apa yang ingin disampaikan penulis melalui tulisan itu.  Hal ini akan tercapai apabila penjelasan yang diberikan penulis melalui tulisan itu dapat diterima pembaca dengan sejelas-jelasnya. Ini berarti bahwa penjelasan penulis itu harus lengkap, tidak terlalu sedikit sehingga membuat pembaca tidak memahami sepenuhnya apa yang ingin disampaikan penulisnya.
Penjelasan yang kurang lengkap dapat mengakibatkan pembaca menganggap bahwa penulisnya tidak serius dalam menyampaikan pesannya. Bahkan, mungkin saja pembaca akan menganggap bahwa penulisnya sendiri kurang memahami apa yang ditulisnya. Ini sering ditemui dalam suatu karya tulis yang ditulis oleh penulis-penulis tertentu yang kurang memahami masalah yang ditulisnya.
BAGIAN-BAGIAN DARI PARAGRAF
Ada tiga bagian dari paragraf yang juga menentukan keefektifan suatu paragraf, yaitu kesatuan kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang ketiga bagian dari paragraf ini, maka ada tiga pertanyaan yang harus dijawab, antara lain: 
1. Apakah yang dimaksud dengan kalimat topik? 
2. Apakah yang dimaksud dengan kalimat-kalimat penjelas? 
3. Apakah yang dimaksud dengan kalimat penutup?
Kalimat Topik
Kalimat topik adalah kalimat yang digunakan untuk memberi tahu pembaca tentang topik apa yang akan dibicarakan dalam paragraf yang sedang dibacanya itu. Pemberitahuan ini dianggap perlu agar, sebelum membaca paragraf yang bersangkutan, pembaca siap untuk mengarahkan perhatiannya pada topik tersebut.  Dengan kata lain, pembaca siap untuk menerima komunikasi yang akan dilakukan oleh penulis tentang topik itu.
Kalimat topik itu terdiri atas dua unsur. Unsur yang pertama adalah topik yang akan dibicarakan itu sendiri sedangkan unsur yang ke dua adalah kesan, pandangan atau pendapat penulis tentang topik tersebut.
Dalam teori menulis paragraf, unsur yang kedua ini disebut sebagai ide pengendali  (controlling idea). Penamaan ‘ide pengendali’ ini sebenarnya lebih banyak bagi kepentingan penulis karena unsur kedua inilah yang akan mengendalikan seluruh isi paragraf yang bersangkutan. Ide pengendali ini menentukan apa yang harus ditulis sesudah kalimat topik itu. Ide pengendali ini harus menjadi fokus perhatian penulis ketika mengembangkan paragraf yang bersangkutan. Kalimat-kalimat yang ditulis sesudah kalimat topik itu harus difokuskan untuk menjelaskan ide pengendali itu.
Sebagai contoh, misalkan anda ingin membicarakan gadis yang tinggal di sebelah rumah anda. Menurut pendapat anda, gadis itu cantik sekali. Jadi, dalam hal ini, ‘gadis itu’ menjadi topik yang akan dibicarakan dan ‘cantik sekali’ menjadi ide pengendalinya (lihat tabel di bawah). Oleh karena itu, kalimat topik anda akan berbunyi: ‘Gadis itu cantik sekali.’
TOPIC
IDE PENGENDALI (CONTROLLING IDEA)
Gadis itu
cantik sekali
Dengan membaca kalimat topik di atas, pembaca akan tahu bahwa paragraf tersebut akan membicarakan gadis itu yang, menurut penulis, cantik sekali. Selanjutnya, pembaca mengharapkan akan memperoleh penjelasan tentang mengapa penulis berpendapat seperti itu.
Kalimat-Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat-kalimat yang biasanya ditulis sesudah kalimat topik. Jenis kalimat ini merupakan kalimat yang paling banyak jumlahnya dalam suatu paragraf. Dalam suatu paragraf, kalimat topik biasanya terdiri atas satu kalimat. Demikian pula dengan kalimat penutup. Akan tetapi jumlah kalimat penjelas dalam satu paragraf biasanya lebih dari satu kalimat.
Dalam istilah bahasa Inggris, kalimat-kalimat ini disebut sebagai supporting sentences (kalimat-kalimat pendukung) karena fungsinya adalah mendukung pernyataan yang telah diungkapkan penulis dalam kalimat topik. Kalimat-kalimat tersebut disebut sebagai kalimat penjelas karena fungsi utamanya adalah untuk menjelaskan pernyataan yang diungkapkan dalam kalimat topik. Apapun label yang kita berikan kepada kalimat-kalimat ini, yang penting kita mengetahui bahwa fungsi kalimat-kalimat ini adalah menjelaskan atau mendukung pernyataan yang telah dinyatakan penulis dalam kalimat topik.
Sebagai contoh, kalau seorang penulis menyatakan, dalam kalimat topiknya, ’gadis itu cantik sekali’, maka pembaca, yang tidak melihat sendiri gadis itu, tidak akan dapat membayangkan betapa cantiknya gadis itu. Ia memerlukan penjelasan dari penulis mengapa penulis berpendapat seperti itu. Penjelasan yang baik adalah penjelasan yang dapat membuat pembaca bisa membayangkan kecantikan gadis itu seperti yang dilihat oleh penulisnya. Tentu saja, penjelasan itu adalah pendapat subyektif penulisnya tetapi, setidaknya, pembaca dapat memahami mengapa penulis tersebut menganggap gadis itu cantik sekali.
Kalimat Penutup
Kalimat penutup adalah kalimat yang paling akhir dalam suatu paragraf. Fungsi kalimat ini adalah memberi sinyal atau tanda kepada pembaca bahwa pembahasan dalam paragraph itu selesai. Dengan demikian, pembaca akan bersiap-siap untuk membahas hal lain dalam paragraf berikutnya.
Kadang-kadang, kalimat penutup itu digantikan oleh kalimat transisi yang berfungsi untuk mengaitkan paragraf tersebut dengan paragraf berikutnya. Ini terutama terjadi kalau paragraf itu merupakan bagian dari wacana yang lebih luas (misalnya, makalah atau laporan).
Ada beberapa cara untuk menutup suatu paragraf. Salah satunya adalah dengan menegaskan kembali pernyataan kalimat topik. Ini terutama dilakukan pada paragraf yang berdiri sendiri, bukan bagian dari tulisan yang lebih panjang.  Apabila paragraf itu sudah memiliki kalimat topik dan kalimat penjelas, maka langkah-langkah selanjutnya  adalah sebagai berikut:
1.  Baca kalimat topiknya;
2.  Pastikan  bahwa  kalimat-kalimat  penjelasnya  sudah sesuai (relevan) dengan kalimat topik tersebut;
3.  Tulis  kembali  kalimat  topik  tersebut  dengan  susunan kalimat yang berbeda. Artinya, isi atau maksud kalimat penutup  itu  sama  dengan  kalimat  topik  tetapi  cara penyampaiannya  berbeda.  Ini  dimaksudkan  agar pembaca  tidak  merasa  bosan  karena  membaca  dua kalimat yang persis sama.

Semoga bermanfaat....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan antara EARTH dan WORLD

PERBEDAAN ANTARA WHOLE DAN ENTIRE